Ketegangan perdagangan antara Uni Eropa dan Tiongkok semakin memuncak setelah data bea cukai terbaru mengungkap bahwa jurang defisit perdagangan kedua belah pihak telah melampaui €1 miliar (sekitar Rp17,5 triliun) per hari pada Juli 2026. Temuan ini muncul hanya berselang beberapa hari sebelum KTT antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Washington, yang dijadwalkan pada 24 September 2026.
Data Defisit Mencatatkan Rekor Baru
Studi yang dilakukan oleh Mercator Institute for China Studies (Meric) mengungkap bahwa konsumen dan pelaku bisnis di Uni Eropa kini menghabiskan tiga kali lipat lebih banyak untuk impor dari Tiongkok dibandingkan mitra dagang mereka di Tiongkok yang membeli produk Eropa. Analisis data bea cukai Tiongkok menunjukkan defisit perdagangan UE-Tiongkok mencapai €36,5 miliar pada Juli 2026, naik signifikan dari €32,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, dari Januari hingga Juli 2026, defisit perdagangan total Uni Eropa dengan Tiongkok telah menembus €234 miliar, meningkat €21 miliar dibandingkan tujuh bulan pertama 2025. Artinya, untuk setiap €1 barang yang diekspor UE ke Tiongkok pada Juli lalu, blok tersebut mengimpor barang senilai €3,18 dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Dengan defisit bilateral kini melampaui €1 miliar per hari, ketidakseimbangan yang semakin melebar ini hampir pasti akan menjadi agenda utama dalam pertemuan UE-Tiongkok yang direncanakan pada Oktober mendatang," ujar analis Meric dalam laporannya.
Penyebab Utama: Dominasi Elektronik dan Otomotif Tiongkok
Data Eurostat memperkuat temuan tersebut. Defisit perdagangan barang UE dengan Tiongkok pada kuartal II 2026 mencapai €103 miliar, angka tertinggi sejak kuartal III 2022 yang mencapai €107 miliar. Impor dari Tiongkok tumbuh 3,8% dari kuartal sebelumnya, sementara ekspor UE ke Tiongkok hanya naik 5,7%.
Secara spesifik, dua kelompok produk teratas dalam impor Tiongkok ke UE pada semester pertama 2026 adalah:
- Peralatan elektrik — dengan peningkatan nilai €6,2 miliar dari semester I 2025
- Mesin dan suku cadang mekanis — naik €4,1 miliar dalam periode yang sama
- Kendaraan dan suku cadang — melonjak €5,9 miliar, mengindikasikan penetrasi mobil listrik Tiongkok yang agresif
Sementara itu, ekspor utama UE ke Tiongkok justru menurun. Ekspor mesin dan suku cadang mekanis merosot €2,8 miliar, dan ekspor kendaraan serta suku cadang turun €2,5 miliar. Satu-satunya peningkatan signifikan hanya terjadi pada ekspor farmasi yang naik €2,1 miliar.
Dampak terhadap Industri Manufaktur Eropa
Bank Sentral Eropa (ECB) dalam terbitan Economic Bulletin edisi terbaru memperingatkan bahwa transformasi industri Tiongkok sedang "menekan keluar" perusahaan Eropa dari pasar global, terutama di sektor mesin dan transportasi. Negara yang paling terdampak adalah Jerman, yang memiliki tingkat kesamaan ekspor tertinggi dengan Tiongkok di antara negara-negara UE.
"Pangsa UE dalam ekspor barang global telah menurun, terutama di sektor dan destinasi di mana Tiongkok telah memperkuat kehadiran globalnya," demikian pernyataan ECB. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penetrasi impor Tiongkok di pasar Eropa telah meningkat secara substansial, terutama di industri manufaktur berkelas menengah dan tinggi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, studi ini menemukan bahwa peningkatan impor barang jadi dari Tiongkok dikaitkan dengan penurunan produksi industri UE sekitar 1 persentase poin per tahun. Meskipun impor barang antara (intermediate goods) dari Tiongkok dapat membantu menurunkan biaya produksi, dominasi barang jadi Tiongkok justru menggerus daya saing produsen Eropa.
Brussels Beri Ultimatum: Hasil Nyata di Oktober
Komisioner Perdagangan UE Maroš Šefčovič telah mengumumkan bahwa ia akan melakukan kunjungan kritis ke Beijing pada 8-9 Oktober 2026 untuk pembicaraan tingkat tinggi dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao. Dalam pernyataannya, Šefčovič menegaskan bahwa "diskusi tentang hubungan perdagangan dengan Tiongkok jauh melampaui debat tradisional tentang keseimbangan perdagangan."
"Percakapan kami berlangsung dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sasaran utama pertemuan Oktober adalah mengembangkan beberapa skema percontohan untuk produk tertentu yang menunjukkan bahwa negosiasi membuahkan hasil," kata Šefčovič.
Brussels telah menetapkan tenggat waktu Oktober untuk mencapai "hasil nyata dan kredibel" dalam pembicaraan rebalancing hubungan perdagangan dengan Beijing. Komisi Eropa menyatakan bahwa "melibatkan secara tulus tetap menjadi prioritas, namun sama pentingnya bahwa hasil konkret pertama harus diberikan" pada sesi kedua Dewan Perdagangan dan Investasi di Beijing.
Beberapa langkah defensif yang sedang dipersiapkan Brussels meliputi:
- Aturan keamanan siber yang diperbarui
- Undang-Undang Akselerasi Industri untuk mengurangi ketergantungan strategis pada impor Tiongkok
- Batasan bagi produk Tiongkok tertentu dalam kontrak publik
- Pembatasan akuisisi perusahaan Eropa oleh entitas Tiongkok
- Investigasi lanjutan terhadap kapasitas berlebih dan subsidi negara Tiongkok
Posisi Tiongkok: Menolak Pembatasan Voluntair
Namun, negosiasi tidak berjalan mulus. Financial Times melaporkan bahwa UE telah meminta Tiongkok untuk secara sukarela membatasi ekspor kendaraan hibrida ke Eropa, namun permintaan ini ditolak oleh Beijing. Tiongkok tetap bersikeras bahwa neraca perdagangan harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dan menolak langkah-langkah proteksionisme.
Hubungan perdagangan UE-Tiongkok menjadi semakin kompleks mengingat konteks geopolitik yang lebih luas. Ketegangan antara AS dan Tiongkok terkait tarif, teknologi, dan isu Taiwan turut memengaruhi dinamika hubungan Eropa-Beijing. KTT Trump-Xi yang akan datang di Washington diperkirakan tidak akan menghasilkan terobosan besar, namun dapat memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang ditetapkan dalam KTT Busan pada Oktober 2025.
Prospek ke Depan: Tantangan Struktural yang Mendalam
Para analis memperingatkan bahwa defisit perdagangan UE-Tiongkok bukan sekadar masalah sementara, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan struktural yang mendalam. Produksi industri Tiongkok terus berkembang pesat didorong oleh subsidi negara dan produktivitas yang meningkat, sementara permintaan domestik Tiongkok relatif lemah sehingga kelebihan produksi dialirkan ke pasar ekspor.
Laporan Brookings Institution memperingatkan bahwa "gelombang ekspor Tiongkok yang melonjak akan menghancurkan sektor-sektor Eropa utama, termasuk otomotif, kimia, energi hijau, mesin, dan alat industri." Studi tersebut menekankan bahwa UE harus segera mengambil tindakan defensif, atau biaya penundaan akan semakin mahal seiring terkikisnya basis manufaktur Eropa.
Sementara itu, survei global Pew Research Center menunjukkan pergeseran sentimen internasional yang menarik: untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, pandangan favorable terhadap Tiongkok (51%) melampaui pandangan terhadap AS (49%) di negara-negara yang disurvei. Perkembangan ini menambah dimensi baru dalam negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung.
Dengan tenggat waktu Oktober semakin dekat dan defisit yang terus melebar, UE dihadapkan pada pilihan strategis: memperkuat pertahanan perdagangan sambil membangun ulang daya saing industri, atau menghadapi konsekuensi yang lebih berat di masa depan saat leverage-nya dengan Beijing terus berkurang.
Data terbaru mengungkap ketidakseimbangan perdagangan terburuk dalam empat tahun terakhir: • Juli 2026: €36,5 miliar (naik 13,5% YoY) • Kumulatif Jan-Jul: €234 miliar • Rasio impor:ekspor = 3:1 Komisioner Perdagangan UE ultimatum: "Hasil nyata di Oktober atau langkah defensif lebih lanjut."
Comments (0)