Mantan Kanselir Inggris yang kini menjabat sebagai Kepala AI Global di OpenAI, George Osborne, angkat suara terkait gelombang protes nasional terhadap pembangunan pusat data (datacentre) di Britania Raya. Ia menyebut para penentang pembangunan — yang kerap disebut NIMBY (Not In My Backyard) — telah menghambat kemajuan teknologi kecerdasan buatan di negara tersebut.
Latar Belakang Kekhawatiran Publik
Dalam beberapa bulan terakhir, warga di berbagai kota Inggris menggelar demonstrasi menolak rencana pembangunan datacentre raksasa. Fasilitas-fasilitas tersebut dikritik karena mengonsumsi air dan energi dalam jumlah sangat besar, ditengah kondisi Inggris yang sedang menghadapi krisis energi dan tekanan pada infrastruktur utilitas publik.
"Datacentre NIMBY sedang menahan laju kemajuan Britania Raya. Kami membutuhkan infrastruktur ini untuk mempertahankan kedaulatan teknologi AI," kata George Osborne kepada media pada hari Senin (22/09/2026).
Peran Osborne di OpenAI
Osborne, yang sebelumnya menjabat sebagai Kanselir di bawah pemerintahan Partai Konservatif, kini memegang posisi strategis di OpenAI, pengembang di balik ChatGPT. Dalam kapasitasnya saat ini, ia bertanggung jawab mewakili perusahaan di hadapan pemerintah-pemerintah di seluruh dunia, sekaligus berperan dalam memfasilitasi pembangunan datacentre dan infrastruktur pendukung lainnya.
Posisi ini menempatkan Osborne di garda depan dalam memediasi antara kepentingan industri AI global dan aspirasi masyarakat lokal yang merasa terancam oleh kehadiran fasilitas teknologi skala besar di lingkungan mereka.
Argumen Osborne tentang Kedaulatan AI
Osborne menegaskan bahwa datacentre bukan sekadar proyek komersial semata, melainkan infrastruktur strategis yang menentukan posisi suatu negara dalam perlombaan teknologi AI global. Tanpa kemampuan membangun dan mengoperasikan datacentre secara mandiri, Inggris berisiko kehilangan kontrol terhadap pengembangan dan penerapan AI di wilayahnya sendiri.
- Kedaulatan data: Datacentre lokal memungkinkan pemrosesan data tetap berada dalam yurisdiksi Inggris, sesuai regulasi perlindungan data seperti UK GDPR.
- Ketahanan ekonomi: Infrastruktur AI domestik mengurangi ketergantungan pada layanan cloud dari negara lain, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok.
- Inovasi dalam negeri: Kehadiran datacentre mendukung ekosistem startup dan penelitian AI lokal.
Reaksi dari Aktivis dan Lingkungan
Namun, para pengunjuk rasa membantah bahwa penolakan mereka bersifat irasional. Mereka menunjukkan data bahwa satu datacentre skala besar dapat mengonsumsi listrik setara kebutuhan puluhan ribu rumah tangga, serta menarik air dari sumber daya yang sudah terbatas.
"Ini bukan soal menolak teknologi. Ini soal meminta pertanggungjawaban korporasi terhadap dampak lingkungan dan sosial yang nyata," ujar salah satu koordinator aksi di Manchester.
Implikasi Kebijakan ke Depan
Pernyataan Osborne ini diperkirakan akan memperkuat debat publik menjelang peluncuran strategi AI nasional yang direncanakan pemerintah Inggris pada akhir tahun 2026. Pemerintah didorong untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akan infrastruktur AI modern dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat lokal serta kelestarian lingkungan.
Situasi ini mencerminkan dilema global yang dihadapi banyak negara: bagaimana mengakomodasi tuntutan industri AI yang berkembang pesat tanpa mengorbankan kepentingan publik dan keberlanjutan lingkungan.
Comments (0)