Musim panas tahun ini menjadi titik balik bagi Marseille. Kota pelabuhan di pesisir selatan Prancis yang selama puluhan tahun dipandang sebelah mata itu kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling diburu di dunia. Bahkan, sejumlah media lokal mulai mempertanyakan apakah Marseille telah resmi menjadi ibu kota pariwisata baru Prancis, menggeser dominasi Paris dan Nice yang selama ini tak tergoyahkan.
Transformasi ini nyaris tak terbayangkan dua dekade lalu. Ketika jurnalis Mary Fitzgerald pertama kali mengunjungi Marseille lebih dari 20 tahun silam, kota ini justru tenggelam dalam stigma negatif. Sebagian kawasannya termasuk permukiman paling tertinggal di Eropa, dengan tingkat kemiskinan tinggi dan kekerasan geng narkoba yang kronis. Para pelancong yang singgah di Stasiun Saint-Charles biasanya hanya berdiam sebentar sambil menggenggam erat barang bawaannya, menunggu kereta lanjutan menuju pedesaan Provence atau pantai Côte d'Azur. Marseille kala itu adalah kota yang tak dicintai, tempat yang ingin segera ditinggalkan.
Dari Kota Terpinggirkan Menjadi Magnet Instagram
Kini keadaan berbalik drastis. Kemiskinan dan kekerasan geng memang masih menghantui sebagian wilayah Marseille, tetapi permata kasar ini telah lahir kembali sebagai destinasi liburan paling trendi di Prancis. Data Booking.com mengungkapkan bahwa Marseille telah melampaui Paris dan Nice sebagai tujuan paling banyak dicari oleh pengguna situs tersebut asal Prancis pada musim panas ini.
Lonjakan popularitas itu tak lepas dari gencarnya pemberitaan media asing. The New York Times menerbitkan panduan "36 Hours in Marseille" pada 2019, kemudian merilis panduan serupa lagi pada 2025. Liputan media internasional yang penuh pujian itu mendorong melonjaknya jumlah wisatawan mancanegara. Daya tariknya pun khas: dari permainan petanque di tepi laut, musik rap vocoder, hingga pizza yang disajikan di piring aluminium. Para influencer berlomba mengabadikan estetika keemasan urban riviera — pesona kota tepi laut yang paling ramah kamera di dunia maya.
Angka yang Berbicara: Perbandingan Popularitas Destinasi
| Destinasi | Posisi Pencarian Booking.com (Musim Panas 2026) | Tren Pengunjung Asing |
|---|---|---|
| Marseille | Nomor 1 | Meningkat tajam |
| Paris | Tergeser | Stabil |
| Nice | Tergeser | Stabil |
Kenaikan itu memicu kekhawatiran baru: overtourism. Stasiun kereta yang dulu sepi kini dipenuhi wisatawan yang datang khusus untuk menikmati suasana kota. Kawasan pelabuhan lama, distrik Le Panier, dan tepi pantai menjadi padat sepanjang musim. Tekanan terhadap perumahan lokal ikut meningkat seiring menjamurnya persewaan jangka pendek, sementara warga lama mulai merasakan harga sewa yang meroket.
"Kami bangga kota ini akhirnya diakui dunia, tetapi kami tidak ingin Marseille berubah menjadi museum raksasa yang hanya untuk difoto. Kami ingin kota ini tetap hidup untuk warganya, bukan sekadar panggung bagi para influencer," ujar seorang aktivis warga setempat kepada media Prancis.
Masih Ada Waktu untuk Menyelamatkan Keunikan Marseille
Para pengamat menilai lonjakan ini adalah momen genting. Sejarah telah menunjukkan bahwa kota-kota Eropa lain seperti Venesia, Barcelona, atau Amsterdam harus berhadapan dengan gelombang wisatawan yang akhirnya menggerus keaslian kota. Marseille memiliki pelajaran yang sama di depan mata, dan keputusan yang diambil pemerintah kota dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan nasibnya.
Mary Fitzgerald menegaskan bahwa belum terlambat untuk menyelamatkan apa yang membuat kota ini istimewa. "This summer has been a tipping point. But it's not too late to save what makes this place unique," tulisnya dalam laporannya untuk The Guardian. Tantangannya kini adalah bagaimana menyeimbangkan keuntungan ekonomi dari pariwisata dengan pelestarian identitas kota, mengatur kapasitas pengunjung, serta memastikan warga lokal tetap menjadi tuan rumah di rumah mereka sendiri.
Marseille telah membuktikan bahwa sebuah kota bisa bangkit dari keterpurukan citra. Kini pertanyaan besarnya adalah apakah kota ini mampu mengelola ketenarannya tanpa kehilangan jiwanya sendiri.
Comments (0)