PARIS — Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara resmi mengumumkan penarikan dukungannya terhadap Gianni Infantino dalam bursa pemilihan Presiden FIFA mendatang. Langkah tegas yang diumumkan pada Kamis waktu setempat ini menandai keretakan hubungan yang kian melebar antara otoritas sepak bola Eropa dengan kepemimpinan tertinggi federasi sepak bola dunia tersebut.
Keputusan FFF mempertegas gelombang perlawanan dari benua biru terhadap Infantino, yang berencana kembali mencalonkan diri untuk mempertahankan jabatannya pada kongres pemilihan Maret 2027. Dengan pembelotan ini, Prancis kini berdiri sejajar dengan sejumlah negara kuat Eropa lainnya yang telah lebih dahulu menyatakan mosi tidak percaya secara terbuka.
Kronologi Meningkatnya Ketegangan Eropa dan FIFA
Keputusan FFF bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari rangkaian ketidakpuasan asosiasi sepak bola Eropa terhadap kebijakan tata kelola sepak bola global selama beberapa tahun terakhir. Berikut adalah rangkaian peristiwa penting yang memicu keretakan tersebut:
- Wacana Piala Dunia Dua Tahunan: FIFA sempat mendorong rencana radikal penyelenggaraan Piala Dunia putra dan putri setiap dua tahun sekali, yang langsung mendapat penolakan keras dari UEFA dan asosiasi anggotanya karena dinilai merusak kalender kompetisi domestik.
- Ekspansi Turnamen yang Padat: Keputusan menggelar Piala Dunia Antarklub dengan format baru berisi 32 tim menuai kritik tajam dari serikat pemain serta federasi Eropa terkait beban kerja pemain dan kelelahan fisik yang ekstrem.
- Gelombang Boikot Terbuka: Sebelum Prancis mengambil sikap, beberapa federasi utama seperti Belgia, Italia, Skotlandia, Swedia, dan Wales telah lebih dulu menyatakan tidak akan mendukung masa jabatan berikutnya bagi Infantino.
- Pernyataan Resmi FFF: Pada Kamis, FFF mengonfirmasi keselarasan posisinya dengan blok oposisi Eropa, menolak memberikan mandat baru kepada pria berkebangsaan Swiss-Italia tersebut.
"Sepak bola memerlukan transparansi, perlindungan terhadap integritas kalender internasional, serta dialog nyata dengan para pemangku kepentingan di tingkat nasional," tulis pernyataan federasi terkait arah kebijakan mereka ke depan.
Implikasi Politik Terhadap Pemilihan Presiden FIFA 2027
Langkah Prancis dipandang memiliki bobot politis yang sangat signifikan mengingat statusnya sebagai salah satu kekuatan sepak bola terbesar di dunia, baik secara prestasi maupun pengaruh diplomasi olahraga. Keikutsertaan Prancis dalam koalisi penentang Infantino memperkuat posisi tawar UEFA dalam menuntut reformasi tata kelola kompetisi internasional.
Meskipun demikian, jalan untuk menggulingkan petahana masih menghadapi tantangan berat. Infantino selama ini dikenal memiliki basis dukungan yang sangat solid dari konfederasi sepak bola di luar Eropa, terutama Afrika (CAF), Asia (AFC), dan zona Concacaf, berkat program pendanaan serta bantuan pengembangan FIFA Forward.
Kini, fokus pengamat sepak bola global tertuju pada apakah koalisi Eropa ini mampu mengusung kandidat alternatif yang kredibel sebelum batas akhir pendaftaran calon dibuka, guna menantang dominasi Infantino yang telah memimpin FIFA sejak 2016.
Comments (0)