BUSAN, Korea Selatan — Dalam sebuah sesi masterclass yang digelar di Busan International Film Festival, sutradara kenamaan Korea Selatan, Na Hong-Jin, membuka tabir di balik lahirnya tiga karya ikoniknya, yaitu 'The Chaser' (2008), 'The Wailing' (2016), dan 'Hope' (2013). Lebih dari sekadar berbagi proses kreatif, Na mengungkapkan bahwa ketiga film tersebut lahir dari pengalaman nyata, mulai dari obrolan ringan di bar, kepercayaan terhadap dukun, hingga ketakutan mendalam akan pecahnya perang.
2008: Obrolan di Bar Melahirkan 'The Chaser'
-
Pada awal kariernya, Na Hong-Jin mengaku mendapatkan benih ide untuk film pertamanya yang menuai pujian kritis, 'The Chaser', melalui percakapan sederhana dengan teman-temannya di sebuah bar lokal.
-
Diskusi tersebut membawanya pada topik mengenai kejahatan di Korea Selatan, khususnya kasus-kasus penculikan yang saat itu kerap menghantui masyarakat. Dari situlah, Na mulai merangkai cerita tentang seorang mantan detektif yang terjebak dalam pengejaran terhadap seorang pembunuh berantai.
-
Hasilnya, 'The Chaser' bukan hanya menjadi debut yang sukses secara komersial, namun juga melambungkan nama Na sebagai salah satu sutradara thriller paling menjanjikan di Korea Selatan.
2016: Mitos, Dukun, dan Kegelapan 'The Wailing'
-
Berbeda dari film sebelumnya, inspirasi untuk 'The Wailing' justru datang dari kekayaan budaya rakyat Korea Selatan. Na mengaku tertarik dengan cerita-cerita rakyat, takhayul, serta peran dukun atau 'mudang' yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat pedesaan hingga saat ini.
-
Ia menggali berbagai legenda mengenai penyakit misterius, kutukan, dan praktik perdukunan yang kerap dikaitkan dengan malapetaka. Hal ini ia padukan dengan ketegangan psikologis untuk menciptakan atmosfer horor yang unik, di mana penonton tidak tahu apakah ancaman tersebut bersifat supranatural, atau berasal dari kegilaan manusia itu sendiri.
-
Film yang berdurasi hampir 2 jam 36 menit ini pun menjadi salah satu film horor Korea paling berpengaruh, bahkan hingga menarik perhatian penonton internasional berkat kompleksitas ceritanya yang sulit ditebak.
2017: Ketakutan Perang Mendorong 'Hope'
-
Di antara ketiga karyanya, Na mengungkapkan bahwa 'Hope' lahir dari sumber inspirasi yang paling personal dan mengkhawatirkan, yaitu ketakutan akan pecahnya perang. Sekitar tahun 2017, ia menyaksikan perkembangan geopolitik di Semenanjung Korea dengan penuh kecemasan.
-
Pada masa itu, berbagai media internasional melaporkan peningkatan aktivitas militer yang signifikan. Na menyebutkan bahwa pesawat tempur dan pembom milik Amerika Serikat kerap terlihat terbang bolak-balik di atas wilayah Pyongyang, Korea Utara, bahkan hingga larut malam. Laporan-laporan tersebut memicu kekhawatiran luas akan potensi konfrontasi bersenjata yang dapat melibatkan kedua Korea.
-
Alih-alih membuat film perang secara langsung, Na memilih untuk menggambarkan dampak psikologis dari ketakutan tersebut. Melalui 'Hope', ia berusaha menunjukkan bagaimana ancaman perang dapat meresahkan masyarakat sipil, terutama mereka yang hanya ingin hidup tenang di tengah ketegangan politik yang berada di luar kendali mereka.
Pesan Na Hong-Jin untuk Dunia Perfilman
Di akhir sesi masterclass tersebut, Na Hong-Jin menegaskan bahwa ketiga film ini membuktikan satu hal penting: inspirasi dapat datang dari mana saja. Baik itu obrolan kasual, tradisi leluhur, maupun krisis geopolitik, semua dapat diolah menjadi cerita yang relevan dan menyentuh hati penonton. Ia juga mengajak sineas muda untuk tetap peka terhadap lingkungan sekitar, karena realitas seringkali jauh lebih menegangkan dibandingkan fiksi.
Melalui pengakuannya di Busan International Film Festival ini, Na Hong-Jin tidak hanya mengingatkan publik akan proses kreatif di balik film-filmnya, namun juga menyoroti keresahan nyata yang pernah dirasakan masyarakat Korea Selatan. Sebuah pengingat bahwa sinema, di tangan yang tepat, dapat menjadi cermin dari ketakutan, harapan, dan keberanian suatu bangsa.
Comments (0)