Nov 04, 2026
Business

Gene Marks Sarankan Pelatihan Etiket Masuk Syarat Pendidikan Profesi

Dunia kerja global tengah mengalami transformasi mendasar seiring masuknya generasi baru, adopsi teknologi komunikasi digital, serta tingkat keberagaman bu

Gene Marks Sarankan Pelatihan Etiket Masuk Syarat Pendidikan Profesi

Dunia kerja global tengah mengalami transformasi mendasar seiring masuknya generasi baru, adopsi teknologi komunikasi digital, serta tingkat keberagaman budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah dinamika ini, para profesional dari berbagai sektor—mulai dari akuntan publik, pengacara, hingga insinyur—diwajibkan memperbarui lisensi mereka melalui kredit pendidikan profesional berkelanjutan (Continuing Professional Education/CPE). Namun, standar pelatihan yang ada dinilai tidak lagi cukup jika hanya mencakup pembaruan teknis dan materi etika formal.

Seorang akuntan publik terverifikasi, Gene Marks, menyuarakan urgensi baru dalam dunia korporat modern. Menurutnya, regulasi yang mewajibkan 80 jam kredit pelatihan setiap dua tahun bagi akuntan harus diperluas. Kebutuhan paling mendesak di lingkungan kerja saat ini bukanlah sekadar memahami batas-batas hukum atau aturan etika dasar, melainkan menguasai etiket profesional yang memfasilitasi interaksi sehari-hari di antara rekan kerja yang makin heterogen.

Pergeseran Norma Kantor dan Batasan Antara Etika dan Etiket

Selama berdekade-dekade, program pemeliharaan lisensi profesi menekankan pada pemahaman etika bisnis untuk mencegah kecurangan, benturan kepentingan, dan pelanggaran hukum. Meski norma etika sangat penting untuk menjaga integritas profesi, hal tersebut acapkali gagal menyentuh ranah tata krama dan cara berkomunikasi interpersonal yang efektif.

Profesi Rata-rata Syarat CPE Fokus Utama Saat Ini Kebutuhan Modul Etiket
Akuntan Publik (CPA) 80 Jam / 2 Tahun Standar Akuntansi & Etika Profesi Sangat Tinggi (Komunikasi Klien & Tim)
Pengacara & Medis 12–24 Jam / Tahun Regulasi & Malpraktik Tinggi (Empati & Interaksi Multikultural)
Insinyur & Kontraktor 15–30 Jam / 2 Tahun Keselamatan Kerja & Kode Teknik Sedang-Tinggi (Manajemen Konflik Lapangan)

Etiket di tempat kerja mencakup aturan tak tertulis mengenai cara menyampaikan umpan balik, norma penggunaan aplikasi pesan instan, kesopanan dalam rapat virtual, hingga kepekaan terhadap latar belakang budaya dan gender yang berbeda. Ketika lanskap tenaga kerja menjadi lebih inklusif, gesekan kecil yang disebabkan oleh ketidakpekaan norma sosial dapat berkembang menjadi konflik internal yang merugikan produktivitas.

Tantangan Keberagaman dan Era Kerja Hibrida

"Mendapatkan penyegaran tentang aturan etika teknis tentu baik dan penting. Namun, hal itu saja tidak lagi cukup di era modern. Ada aspek yang jauh lebih menentukan keharmonisan organisasi: etiket bertenggang rasa dan kepekaan sosial di tempat kerja," ungkap Gene Marks dalam analisisnya.

Perkembangan pola kerja hibrida (hybrid work) dan sistem fleksibel turut memperumit dinamika interaksi profesional. Batas antara ruang pribadi dan ruang kerja yang kian kabur kerap memicu kesalahpahaman. Banyak profesional muda maupun senior yang belum terlatih secara formal mengenai batasan komunikasi digital, seperti waktu pengiriman surel, nada bicara dalam pesan obrolan kantor, serta etiket pengoperasian kamera saat rapat daring.

Di sisi lain, keberagaman lintas generasi—di mana hingga lima generasi berbeda kini bekerja di bawah satu atap perusahaan—menciptakan kesenjangan harapan yang signifikan. Generasi senior mungkin menghargai formalitas dan komunikasi langsung, sementara generasi muda lebih menyukai efisiensi digital yang terkadang dianggap terlalu lugas atau kurang sopan oleh rekan senior mereka.

Mendorong Etiket Sebagai Standar Wajib Sertifikasi

Melihat tingginya potensi gesekan sosial di ruang kerja modern, para ahli pengembangan sumber daya manusia mendukung gagasan untuk memasukkan materi etiket ke dalam kurikulum wajib kredit pendidikan profesional. Langkah ini dianggap bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan investasi strategis untuk membangun budaya kerja yang sehat, inklusif, dan profesional.

Dengan memasukkan pelatihan etiket ke dalam modul resmi pembaharuan sertifikasi, institusi penjamin profesi dapat memastikan bahwa para anggotanya tidak hanya memiliki keahlian teknis bernilai tinggi, tetapi juga kecerdasan emosional dan sosial. Lingkungan kerja yang harmonis secara langsung berkorelasi dengan tingkat retensi karyawan yang lebih tinggi serta reputasi bisnis yang lebih solid di mata publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User