ADDIS ABABA — Tentara Ethiopia mengklaim telah merebut sebuah kota penting di wilayah utara Tigray di tengah eskalasi konflik bersenjata dengan pasukan pemberontak lokal. Pengumuman itu disampaikan pada malam hari waktu setempat, menandai babak baru pertempuran yang semakin intensif antara pemerintah federal dan kekuatan regional yang menuntut otonomi lebih besar.
Klaim militer Ethiopia tersebut muncul setelah berhari-hari baku tembak sengit yang dilaporkan terjadi di sejumlah titik strategis. Kota yang dimaksud disebut memiliki nilai taktis tinggi karena menjadi simpul jalur logistik dan akses menuju kawasan pegunungan Tigray. Hingga berita ini diturunkan, pihak pemberontak belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
Kronologi Eskalasi Konflik
Konflik di Tigray berkembang cepat dalam beberapa pekan terakhir. Berikut urutan kejadian yang terhimpun dari berbagai laporan lapangan:
- Ketegangan politik meningkat — Pemerintah federal dan otoritas regional Tigray saling menuduh melanggar kesepakatan otonomi dan pembagian kekuasaan.
- Bentrok bersenjata meletus — Pertempuran skala penuh pecah di beberapa distrik, memaksa ribuan warga mengungsi ke daerah tetangga.
- Militer Ethiopia bergerak — Pasukan federal dikerahkan untuk merebut kembali posisi yang dikuasai pemberontak, termasuk sejumlah kota penghubung utama.
- Klaim penguasaan kota kunci — Panglima militer menyatakan kota strategis di Tigray utara telah berada di bawah kendali pemerintah.
- Respons internasional — Sejumlah negara dan organisasi kemanusiaan mendesak gencatan senjata serta akses bantuan bagi warga sipil.
"Kami telah membebaskan kota ini dari tangan kelompok bersenjata. Operasi akan terus berlanjut hingga stabilitas dipulihkan," demikian pernyataan yang dikeluarkan pihak militer Ethiopia.
Dampak Kemanusiaan yang Memburuk
Eskalasi ini memperparah kondisi kemanusiaan di Tigray yang sudah lama terdampak konflik. Lembaga bantuan melaporkan bahwa akses logistik semakin terputus, sementara pasokan pangan, obat-obatan, dan bahan bakar kian langka. Rumah sakit dilaporkan kewalahan menangani korban luka akibat pertempuran.
Ribuan keluarga dilaporkan mengungsi ke wilayang perbatasan, mencari perlindungan dari gempuran. Organisasi kemanusiaan memperingatkan risiko krisis pangan berskala besar jika jalur bantuan tidak segera dibuka.
Dua Penembakan Massal di Afrika Selatan, 28 Tewas
Di Afrika Selatan, dua insiden penembakan massal dalam waktu berdekatan menewaskan sedikitnya 28 orang. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan senjata yang mengguncang negara tersebut. Kepolisian masih menyelidiki motif di balik kedua serangan dan memburu para pelaku.
Otoritas menyatakan kedua insiden terjadi di lokasi berbeda dengan pola serangan yang menyasar kerumunan warga. Kasus ini memicu desakan baru untuk memperketat pengawasan kepemilikan senjata ilegal.
Aktivis Uganda Praise Aloikin Opoloje Hadapi Pengadilan
Sementara itu, aktivis Uganda Praise Aloikin Opoloje menghadapi proses hukum setelah muncul kembali menyusul berhari-hari ketidakpastian soal keberadaannya. Ia dilaporkan sempat hilang kontak sebelum akhirnya hadir di persidangan. Kelompok hak asasi manusia menuntut transparansi atas penanganan kasusnya dan meminta jaminan proses hukum yang adil.
Ketiga peristiwa ini menggambarkan kompleksnya dinamika keamanan dan politik di kawasan Afrika Timur dan Selatan, yang dalam sepekan terakhir menyita perhatian dunia internasional.
Comments (0)