Nov 04, 2026
World

PARIS — Bos Pasar Rungis Peringatkan Ancaman Krisis Pangan Global

PARIS — Pasar Induk Rungis yang terletak di pinggiran kota Paris bukan sekadar pusat perdagangan produk segar biasa. Sebagai pasar grosir pangan terbesar d

PARIS — Bos Pasar Rungis Peringatkan Ancaman Krisis Pangan Global

PARIS — Pasar Induk Rungis yang terletak di pinggiran kota Paris bukan sekadar pusat perdagangan produk segar biasa. Sebagai pasar grosir pangan terbesar di Eropa, Rungis memegang peran vital dalam menjaga stabilitas dan kelangsungan rantai pasokan makanan di tingkat regional maupun internasional. Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama jurnalis Delano D'Souza dari France 24, Stéphane Layani, Direktur Utama Pasar Rungis sekaligus Ketua Persatuan Pasar Grosir Dunia (World Union of Wholesale Markets), membeberkan pandangan kritisnya mengenai masa depan ketahanan pangan global.

Layani, yang baru-baru ini meluncurkan buku terbarunya berjudul Le Monde a faim (Dunia Sedang Lapar), menegaskan bahwa masyarakat dunia saat ini tengah menghadapi tantangan sistemik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim yang makin ekstrem, eskalasi konflik geopolitik di berbagai belahan dunia, hingga lonjakan inflasi energi dan logistik telah menekan rantai pasokan pangan hingga ke titik yang sangat mengkhawatirkan.

Krisis Distribusi dan Paradoks Ketahanan Pangan

Dalam bukunya, Layani menggambarkan secara mendalam bagaimana dinamika pasar internasional berpengaruh langsung terhadap aksesibilitas bahan pokok bagi jutaan manusia. Menurut analisisnya, persoalan utama krisis pangan saat ini tidak hanya terletak pada tingkat produksi pertanian, melainkan pada efisiensi, keadilan, dan keandalan sistem distribusinya.

"Dunia sedang menghadapi paradoks besar: kapasitas produksi pangan global sebenarnya mencukupi, namun efisiensi distribusi dan ketimpangan aksesibilitas masih menjadi jurang pemisah yang sangat lebar. Jika kita tidak segera mentransformasi sistem logistik dan model pertanian kita, krisis kelaparan akan meluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap aman," tegas Stéphane Layani saat menjelaskan pemikiran utama di balik bukunya.

Transformasi Sistem Logistik Pangan Prancis dan Eropa

Sebagai sosok kunci di balik operasional Rungis, Layani membagikan proyeksi strategis mengenai bagaimana sistem pangan Prancis dan kawasan Eropa akan bertransformasi dalam beberapa tahun mendatang. Ia menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur pasar grosir untuk meminimalkan jejak karbon sekaligus menekan angka sampah makanan (food waste) yang masih sangat tinggi.

Beberapa strategi kunci yang menjadi fokus transformasi rantai pasokan meliputi:

  • Peningkatan Resiliensi Rantai Pasokan: Melakukan diversifikasi sumber pasokan guna mengurangi ketergantungan ekstrem pada satu wilayah impor tertentu.
  • Digitalisasi Logistik Pangan: Memanfaatkan integrasi data cerdas dan teknologi pelacakan real-time untuk meningkatkan efisiensi distribusi serta menghemat konsumsi energi.
  • Pengurangan Sampah Makanan: Mengoptimalkan rantai dingin (cold chain) dan manajemen stok di pasar grosir untuk meminimalisasi bahan segar yang terbuang sia-sia.
  • Dukungan Terhadap Produsen Lokal: Memperkuat integrasi antara petani lokal dan jaringan distribusi skala besar secara adil dan berkelanjutan.

Menghadapi Tantangan Masa Depan

Transformasi ketahanan pangan dunia bukanlah proses yang dapat diwujudkan secara instan. Layani menggarisbawahi bahwa kolaborasi lintas negara serta optimalisasi peran pasar grosir sebagai hub logistik utama merupakan fondasi mendasar. Pasar grosir tidak lagi sebatas arena transaksi jual beli, melainkan benteng pertahanan pertama dalam menjaga stabilitas pasokan nutrisi saat krisis global terjadi.

Prancis sendiri kini terus melakukan pembenahan internal agar sistem distribusi pangannya menjadi lebih mandiri, adaptif, dan ramah lingkungan. Langkah-langkah inovatif yang diterapkan di Pasar Rungis diharapkan mampu menjadi model acuan (*blueprint*) bagi pengelolaan pasar-pasar grosir di negara lain, khususnya negara berkembang yang paling rentan terdampak gejolak pasokan dunia.

"Kita harus memprioritaskan keberlanjutan. Mengalirkan bahan pangan dari ladang hingga ke meja makan masyarakat membutuhkan sinergi antara teknologi modern, kebijakan lingkungan yang tegas, serta komitmen kemanusiaan," pungkas Layani mengakhiri wawancaranya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll