WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memasuki fase krisis kepercayaan di panggung diplomasi internasional. Analisis yang diterbitkan kolomnis The Guardian, Rafael Behr, Selasa (26/8/2026), menyebut perang melawan Iran telah menjadi bencana strategis bagi Washington, sementara daftar sekutu yang masih bersedia berpihak pada Gedung Putih semakin menipis.
Menurut Behr, dunia internasional kini dengan jelas dapat melihat bahwa konflik tersebut tidak memberikan hasil yang diinginkan AS. Ironisnya, presiden yang sedang menghadapi tekanan politik itu tetap tampil seolah-olah sedang meraih kemenangan. "Semua orang bisa melihat bahwa perang Iran adalah bencana strategis bagi AS, sementara seorang presiden yang gagal berpura-pura sedang menang," tulis Behr dalam kolomnya.
Kekayaan dan Persenjataan Tak Menjamin Pengaruh
Dalam analisisnya, Behr mengakui bahwa posisi fundamental Amerika Serikat sebagai negara terkaya dan paling banyak dipersenjatai di dunia masih aman. Status geostrategis itu, katanya, tidak akan runtuh dalam waktu dekat. Namun kekuatan material tersebut justru kontras dengan kondisi pengaruh diplomatik Trump yang terus melemah.
Behr bahkan menyebut era ini sebagai "senja supremasi Donald Trump". Ia menilai presiden yang tengah menjalani masa jabatan keduanya itu menikmati kekuasaan yang melampaui batas konstitusi, berkat sikap Kongres yang dinilainya tunduk dan membiarkan berbagai pelanggaran hukum tanpa konsekuensi.
"Dengan segala keunggulan itu, dibutuhkan bakat khusus dalam hal inkompetensi untuk tampak begitu terpojok dan tak berdaya seperti Trump saat ini, padahal masih ada lebih dari dua tahun masa jabatan keduanya."
Kalimat tersebut menjadi sorotan utama kolom opini yang dimuat The Guardian, Rabusia waktu setempat, karena menegaskan paradoks yang dihadiri Gedung Putih: kekuatan domestik yang nyaris tanpa penahanan, tetapi daya tawar internasional yang terkikis habis.
"Amunisi Diplomatik" Mencapai Titik Habis
Frasa "kehabisan teman untuk dibakar" yang menjadi judul kolom Behr merujuk pada pola Trump selama ini: menghabiskan modal politik dan diplomatik untuk kepentingan jangka pendek. Beberapa poin kunci dari analisis tersebut antara lain:
- Perang Iran dinilai gagal — operasi militer tidak menghasilkan keunggulan strategis yang dapat ditunjukkan kepada publik maupun sekutu.
- Sekutu menjarang — mitra-mitra tradisional AS dikabarkan enggan lagi membela posisi Washington di forum internasional.
- Kongres dianggap pasif — lembaga legislatif dinilai membiarkan eksekutif bertindak di luar koridor hukum.
- Waktu berpihak pada kritik — masih ada lebih dari dua tahun masa jabatan yang harus dilalui dengan modal diplomasi yang semakin tipis.
Pengamat hubungan internasional menilai kerangka analisis Behr mencerminkan keresahan yang kini juga muncul di lingkaran kebijakan Eropa. Ketika satu negara adidaya cenderung memperlakukan aliansi sebagai transaksi sesaat, mitra-mitranya akan mencari alternatif, baik melalui jalur multilateral lain maupun dengan mendekatkan diri ke kutub kekuatan baru.
Dampak Jangka Panjang bagi Orde Dunia
Pertanyaan besar yang diajukan kolom tersebut adalah seberapa jauh kerusakan reputasi diplomatik ini akan bertahan setelah kepemimpinan Trump berakhir. Pengalaman sejarah menunjukkan kepercayaan antarnegara jauh lebih sulit dipulihkan daripada kekuatan militer atau ekonomi. Kapal induk dapat diterjunkan dalam hitungan hari, tetapi restu sekutu bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Sementara itu, Gedung Putih belum menanggapi secara resmi tulisan Behr. Dalam beberapa kesempatan, juru bicara presiden telah membantah narasi kegagalan dan bersikeras bahwa kebijakan luar negeri saat ini justru memperkuat posisi tawar Amerika Serikat. Namun bagi kalangan analis, semakin sering klaim kemenangan diucapkan tanpa bukti konkret, semakin dalam pula kesenjangan antara retorika dan realitas di lapangan.
Apa pun penilaian pembaca terhadap arah kebijakan Washington, satu hal yang disepakati banyak pengamat: persediaan "amunisi diplomatik" Trump memang nyaris habis, dan membangun ulang gudangnya tidak akan mudah.
[SOCIAL_TWEET]: Kolomnis The Guardian: Perang Iran jadi bencana strategis bagi AS, sementara Trump berpura-pura menang. Sekutu semakin menipis, modal diplomatik nyaris habis. #DonaldTrump #Iran #Diplomasi[SOCIAL_TG]: 🔴 ANALISIS: Trump Kehabisan Sekutu Diplomatis — Kolomnis The Guardian menyebut perang Iran sebagai bencana strategis bagi AS. Modal diplomatik menipis, Kongres dinilai pasif, dan masih ada dua tahun masa jabatan yang harus dijalani. Detail lengkap di artikel ini.
Comments (0)